Betawipos.com, Jakarta – Pengacara Rudianto Manurung SH,MH, CLA, selaku kuasa hukum terdakwa Yanuar Rheza Muhammad dan Firsto Yan Presanto, sangat mengapresiasi putusan majelis hakim terhadap kliennya. Hal itu menyusul pidana penjara kepada kliennya selama 2 tahun penjara dan denda lima puluh juta Rupiah.

Sidang lanjutan perkara pemerasan terhadap M.Yusuf dengan dua terdakwa yang merupakan mantan Kasi Penyidikan pada Aspidsus Kejati DKI Jakarta, Yanuar Reza Muhammad dan Jaksa Kasubsi Tipikor dan Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU) Fristo Yan Presanto. Serta seorang lagi pihak swasta bernama ,Cecep Hidayat, kembali digelar di Pengadilan Tipikor Jakarta Pusat dengan agenda Putusan Majelis Hakim, pada Rabu (9/9/2020).

Dalam putusannya, Ketua Majelis Hakim Fahzal Hendri menjatuhkan pidana penjara kepada ketiga terdakwa masing-masing selama 2 tahun penjara dan denda lima puluh juta Rupiah. Apabila denda tidak dibayarkan maka diganti dengan kurungan badan selama satu bulan,” ujar Fahzal dalam Amar putusannya di Pengadilan Tipikor Jakarta Pusat, Rabu (9/9).

Majelis hakim, seperti dikutip Betawipos, berpendapat ketiga terdakwa telah terbukti secara sah dan meyakinkan melakukan tindak pidana korupsi dengan melanggar Pasal 23 undang-undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, sebagaimana telah diubah dan ditambah dengan Undang-undang Nomor 20 Tahun 2001 Jo Pasal 412 KUHP jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.

Menurut Majelis Hakim, hal yang memberatkan para terdakwa tersebut tidak mendukung program pemerintah dalam upaya pemberantasan korupsi. Sedangkan hal yang meringankan para terdakwa masih memiliki tanggungjawab sebagai kepala keluarga.

Menanggapi putusan Majelis Hakim tersebut, Jaksa Penuntut Umum dan kuasa hukum dari ketiga terdakwa tersebut menjawab pikir-pikir dulu saat ditanya majelis hakim apakah menerima atau melakukan upaya hukum banding terhadap putusan tersebut.

Putusan Majelis Hakim tersebut  lebih rendah dari tuntutan Jaksa Penuntut Umum (JPU) yang telah menuntut terdakwa Yanuar Reza Muhammad dan Jaksa Kasubsi Tipikor dan Fristo Yan Presanto Masing-masing 4 tahun penjara, terhadap terdakwa Cecep Hidayat selama 4 tahun 6 bulan.

Selain hukuman badan, JPU juga mewajibkan kepada kedua terdakwa yakni Rheza dan Fristo Presanto agar membayar denda masing-masing sebesar Rp200 juta subsidair 3 bulan kurungan, Kata Jaksa Jimmy Banau saat membacakan tuntutannya dihadapan majelis hakim yang diketuai Fahzal Hendri.

Tanggapan kuasa hukum

Usai Persidangan, Advokat Muda segudang prestasi, Rudianto Manurung SH,MH, CLA, selaku kuasa hukum terdakwa Yanuar Rheza Muhammad dan Firsto Yan Presanto, sangat mengapresiasi putusan majelis hakim terhadap kliennya.

Menurut Rudi sejak awal ia sudah menduga bahwa penuntut umum sangat ragu terhadap tuntutan pidananya kepada kliennya tersebut.

“Terbukti majelis hakim memvonis klien kami selama dua tahun penjara,” ujarnya.

Bahkan, lanjut Rudi, requisitor penuntut umum terlalu dipaksakan. “Sehingga majelis hakim memiliki pandangan lain terhadap tuntutan pidana jaksa,” imbuh Rudianto Manurung.

Ia pun meminta kepada pimpinan Kejaksaan Agung agar melakukan upaya eksaminasi terhadap para jaksa yang menyidangkan perkaranya tersebut.

“Saya meminta kepada pimpinan Kejaksaan Agung agar melakukan upaya eksaminasi terhadap jaksa yang menyidangkan klien kami,” tutup advokat muda yang ditunjuk oleh Pesatuan Jaksa Indonesia atau PJI.

Sementara itu, Suaris Sembiring selaku Kuasa Hukum terdakwa Cecep Hidayat merasa kecewa terhadap putusan majelis hakim tersebut, karena penerapan pasal pada putusan tersebut dinilai kurang tepat kepada kliennya.

” Saya sangat kecewa dengan penetapan putusan kepada klien saya, karena pasal yang diterapkan Majelis Hakim itu memang buat ASN atau Penyelengara Negara, sedangkan CH bukan ASN,” tutur Suaris.

Menurut Suaris, sikap Majelis Hakim dianggap tidak mempertimbangkan kerelaan kliennya dalam mengungkap kasus ini.

“Karena kasus ini terang benderang karena adanya Itikad baik dari kliennya tersebut untuk membongkarnya, bahkan kliennya CH bersedia menjadi Justice Colaborator (JC) serta kliennya CH selama pemeriksaan sampai persidangan selalu Koperative,” pungkasnya.  (Acil).