Betawipos, DIY – Siapakah Roro Mendut? Mendengar kisahnya, mungkin kita akan dibawa ke cerita-cerita tragedi romantis macam Romeo Juliet atau Sampek Engtay. Yang membedakan, kisah perempuan Jawa nan sensual dan cantik jelita ini bukan cerita rekaan alias fiktif.

Roro Mendut lahir di era kekuasaan Sultan Agung di Mataram. Tentang sosoknya, ada banyak kesamaan di sejumlah versi. Dia perempuan yang konon seksi, sensual dan cantik jelita dari kampung nelayan di pesisir Kadipaten Pati (sekarang Kabupaten Pati, Jawa Tengah).

Film nasional yang sempat viral, mengangkat cerita Roro Mendut

Kisah Roro Mendut terjebak di pusaran drama seru pemberontakan Wasis Jayakusuma II alias Adipati Pragola II, yang menentang kekuasaan Sultan Agung di Kerta (Mataram). Pragola II sebenarnya masih saudara sepupu dengan Raden Mas Jolang (Sultan Agung). Pragola adalah gelar Wasis Jayakusuma I, anak Pangeran Puger putra Panembahan Senopati pendiri tahta Mataram di Kotagede. Sesudah Sultan Agung bertahta, Puger menjadi Adipati Demak, yang kemudian mengobarkan pemberontakan sebelum ditumpas.

Kematian Pangeran Puger inilah yang rupanya membawa dendam di benak Adipati Pragola II. Lebih-lebih Adipati Pragola (I), juga pernah angkat senjata menantang Panembahan Senopati. Ini jadi semacam bara yang menahan kebencian Adipati Pati terhadap kekuasaan Mataram.

Sementara Roro Mendut, kisahnya diawali dari pemberontakan Pragola. Ketika Sultan Agung memimpin langsung pembasmian ke Pati, turut serta Tumenggung Wiroguno sebagai panglima perang.

Cerita Babad Mataram ini mengisahkan, Pragola ketika menghadapi Sultan Agung mengenakan baju zirah (baju besi) milik pelaut Portugis yang disebut Baron Sekeber. Versi lain menyebut Baron Skeber, keturunan bangsawan Belanda.

Namun Pragola akhirnya tumbang di tangan prajurit pemegang payung Sultan Agung. Pati ditaklukkan, kekayaan dijarah, gadis-gadis dan perempuan cantik di Pati diboyong ke Mataram, termasuk Roro Mendut, yang ketika itu jadi selir Pragola.

Ia dibawa paksa ke ibukota Mataram, ke rumah Tumenggung Wiroguno. Terpesona kecantikannya, dan karena ingin punya keturunan, Wiroguna ngotot mempersunting Mendut menjadi istrinya. Mendut melawan bangsawan tua itu dan terus melawan.

Kesal, Wiroguna memasukkan Roro Mendut ke daftar taklukan yang harus membayar pajak ke Mataram. Mendut terpaksa putar otak supaya bisa mengumpulkan kepeng demi kepeng untuk pasokan ke kerajaan.

Bermodal tubuh dan kecantikannya, Mendut berjualan rokok di sebuah pasar dan tempat orang biasa menyabung ayam. Tempat itu bernama Pasar Prawiromanten, atau kemudian hingga saat ini disebut Balong, letaknya di selatan Keraton Kerta.

Mendut menjual mahal rokok lintingannya, karena yang diburu adalah rokok yang dikulumnya lebih dulu. Lebih mahal lagi puntung rokok atau tegesan. Unsur erotisme muncul dalam “sanepan” demikian. Pak Muhayat (86), putra mantan juru kunci situs makam Mendut menafsirnya demikian.

“Menurut tafsir saya, itu kan kiasan tentang apa yang dijalankan Mendut. Rokok yang dicari koq “tegesan”, ini nurut saya ada unsur seksualitasnya. Transaksi seks. Itu pendapat saya lho ya, bisa saja orang lain menafsir beda,” kata Pak Muh, sapaan akrab pensiunan guru ini di Dusun Gandu, seperti dikutip Betawipos.

Situs makam Roro Mendut dan Pronocitro diyakini terletak di bon suwung Dusun Gandu, Desa Sendangtirto, Berbah, Sleman. Dusun ini terletak di sebelah selatan Jalan Wonosari Km 10, arah jalannya tembus ke Prangwedanan dan Segoroyoso.

Roro Mendut akhirnya bisa mengumpulkan uang cepat dan banyak dari lapak yang digelarnya. Hingga suatu saat Mendut bertemu Pronocitro, penyabung ayam yang juga datang ke keramaian itu. Mereka jatuh cinta di pandangan pertama.

Versi cerita rakyat di Pati, sesungguhnya Mendut dan Pronocitro sudah sejak awal berhubungan. Mereka merajut cinta sejak Mendut masih tinggal di kampung nelayan pesisir Pati, sebelum dirampas Pragola dan jatuh ke tangan Wiroguno.

Mengetahui perkembangan Mendut yang merajut hubungan lagi dengan Pronocitro, murkalah Wiroguno. Hatinya dibakar api cemburu. Ia memerintahkan pencarian Pronocitro untuk ditumpas hidupnya. Pemuda itu akhirnya tewas di tangan pasukan Wiroguna.

Jasadnya dikubur di hutan Ceporan, Gandu. Kematian Pronocitro sampai juga ke telinga Mendut, yang masih tinggal di keputren rumah Wiroguno. Mendut tak percaya. Wiroguno mengajak Mendut melihat makam Pronocitro untuk membuktikannya.

Pementasan teater yang mengadaptasi kisah Roro Mendut dan Pronocitro

Sampai di lokasi, Roro Mendut histeris. Wiroguno memaksanya menarik pulang. Saat tarik-tarikan itulah, Mendut mencuri kesempatan melolos keris Wiroguno, lalu ditikamkan ke tubuhnya. Mendut tewas tak jauh dari makam kekasihnya.

Versi cerita klasik lain yang kerap dipanggungkan lewat seni ketoprak, Pronocitro dan Mendut terbunuh saat lari dari cengkeraman Wiroguno. Mereka dikejar tentara Wiroguno, ditemukan di pesisir “lautan” yang diduga Segoroyoso, laut buatan dari bendungan Kali Opak.

Di tempat itulah keduanya terbunuh, dan kemudian dimakamkan satu liang di Gandu, sebelah utara Segoroyoso. Kisah serupa jadi penutup di bagian pertama trilogi novel Roro Mendut karya Romo Mangun (YB Mangunwijaya).

Karya sejarah klasik Jawa era Mataram yang disusun HJ de Graaf tak menyinggung kisah Roro Mendut ini. Namun tentang sepak terjang Tumenggung Wiroguno diulas cukup mendetail di dua era kekuasaan yang dilaluinya, masa Sultan Agung dan penggantinya, Amangkurat I. (berbagai sumber)