BETAWIPOS, Jakarta – Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Utara menggelar kembali sidang lanjutan kasus kredit Bank CIMB senilai Rp. 18 Milyar, pada Rabu (8/7/2020). Perkara itu menyangkut dugaan pemalsuan tanda tangan dan Cap Jempol dengan terdakwa Hasim Sukanto.

Aneh tapi nyata, inilah yang terjadi didalam sidang lanjutan perkara dugaan pemalsuan yang diduga dilakukan oleh terdakwa Hasim Sukamto. Padahal pengajuan kreditnya tersebut menggunakan dua agunan itu sudah lolos dan dananya sudah dicairkan oleh Bank CIMB Niaga sebesar Rp.18 Milyar. Tapi kenapa ya, bisa menjadi masalah dikemudian hari.

Oleh karena itulah, permasalahan tersebut saat ini diuji kebenarannya di persidangan yang di gelar di Pengadilan Negeri Jakarta Utara. Dalam persidangan itu terungkap bahwa masalah ini timbul karena pada saat proses pengajuan kredit tersebut, diduga telah terjadi pemalsuan tandatangan dan cap jempol.

Berdasarkan hal itu, proses hukumnya pun berjalan, dan saat ini perkaranya sedang digelar dalam persidangan yang diketuai oleh majelis hakim Djumianto.

Dalam persidangan, Betawipos melihat dua orang saksi yang diambil sumpahnya oleh majelis hakim. Saksi tersebut adalah Hadi Sukamto dan Indra. Ironisnya, saksi Hadi Sukamto ini adalah kakak kandung dari pada terdakwa Hasil Sukamto.

Oleh karena itu, sebelum mengambil sumpah kepada kedua orang saksi tersebut, majelis hakim bertanya kepada terdawa, apakah anda keberatan, kakak anda menjadi saksi? tanya majelis seraya dijawab terdakwa dengan mengatakan tidak keberatan.

Keterangan Saksi

Selanjutnya, setelah kedua saksi disumpah, saksi pertama yang diperiksa adalah Hadi Sukamto. Dimuka persidangan ia menyatakan bahwa dirinya adalah anak pertama dari enam bersaudara, sedangkan terdakwa Hasim adalah yang paling bungsu.

“Apa yang anda ketahui, sehingga adik anda menjadi terdakwa saat ini?” tanya majelis hakim bertanya kepada saksi. Selanjutnya saksi Hadi Sukamto mengatakan karena ada surat yang dipalsukan.

“Ada surat yang dipalsukan, surat itu mengenai perjanjian kredit. Yang dipalsukan adalah tanda tangan dan cap jempol,” ujar Hadi seraya mengatakan bahwa hingga saat ini dirinya tidak mengetahui siapa yang memalsukan itu.

Karena sebelum mengajukan kredit di Bank CIMB Niaga, kata Hadi yang juga Direktur Utama di PT Hadis Mustika Utama (PT HMU) itu. Menurutnya PT MHJ sebelum menjadi kreditur di Bank CIMB Niaga, juga telah menjadi kreditur di Bank Commenwealth dari tahun 2014. Kala itu dari Bank Commenwealth tersebut mereka berhasil mencairkan kredit sebesar Rp 16 Milyar. 

Menurut Hadi, setelah cair uang tersebut ditaransfer ke rekening Hasan Sukamto. Karena pinjaman di Bank Commenwealth itu atas nama pribadinya. Tapi setelah  dana tersebut  cair, tetap aja uangnya dipergunakan unutk kepentingan perusahaan.

“Pada saat mengajukan kredit di Bank Commenwealth kala itu, yang menjadi agunannya adalah sebidang tanah dan rumah yang berada di Jalan Yos Sudarso dan di danau Sunter. Sebagai kreditur kami menjaminkan dua aset, jika dihargai kedua aset tersebut sebesar Rp.20 milyar lebih,” imbuhnya. 

Kedua aset tersebut atas nama Hasim dan Hasan. Sedangkan pada saat penandatanganan akat kredit di Bank CIMB Niaga, menurut Hadi pada saat perikatan kredit di CIMB Niaga itu, semuanya hadir, kecuali Istri Hasim, Meliana yang tidak hadir. 

“Namun, selang dua hari kemudian, ternyata sudah ditandatangani,” ujarn Hadi sambil mengatakan bahwa dirinya tidak mengetahui siapa yang tandatangani dan membubuhkan cap tersebut.

Selanjutnya, setelah semua persyaratan sudah lengkap, akhirnya kredit dari Bank CIMB Niaga pun cair. Dana sebesar Rp.18 Milyar tersebut masuk ke rekening perusahaan. Selanjutnya kata Hadi pihaknya langsung melakukan take over dana untuk pelunasan kredit di Bank Commenwealth pada tahun 2017.

Berdasarkan hal itu, Jaksa Penuntut Umum (JPU’) Ikram SH Mencecar pertanyaannya dengan menanyakan kepada saksi Hadi mengenai aset yang dijaminkan itu milik siapa. Menurutnya aset tersebut sudah dibeli, karena awalnya punya adik iparnya, Risa Sukamto.  (Acil).