Betawipos, Jakarta – Tragis memang nasib yang dialami Peter Erberveld, sosok berdarah Indo Belanda – Jerman. Ia divonis mati ditarik empat ekor kuda yang berlari berlawanan arah. Ya, ia dituduh turut mengobarkan perlawanan kepada Vereenigde Oost-Indische Compagnie (VOC).

Nama Pieter Erberveld diabadikan sebagai Tiga simbol berbeda. Bagi Belanda ia disebut pemberontak terkutuk sementara bagi Jepang Erberveld menjadi simbol perlawanan terhadap kolonial. Sementara bagi Indonesia dirinya menjadi pejuang kemerdekaan.

Sayangnya, meski dianggap pahlawan, namun namanya seolah tenggelam di buku-buku sejarah perjuangan bangsa ini. Namanya tak setenar seperti Douwes Dekker, HJC Princen, Laksamana Maeda dan yang lainnya.

Konon, lokasi eksekusi tentara VOC terhadap Erberveld itu menjadi cikal bakal Kampung Pecah Kulit di kawasan Jakarta Utara. Saking sadisnya tindakan VOC kala itu, eksekusi masih dilanjutkan dengan menancapkan kepalanya dengan tombak di depan rumah Erberveld yang dihancurkan VOC.

“Sebagai kenang-kenangan yang menjijikan atas dihukumnya sang pengkhianat Pieter Erberveld.Karena itu dipermaklumkan kepada siapapun, mulai sekarang tidak diperkenankan untuk membangun dengan kayu, meletakan batu bata dan menanam apapun di tempat ini dan sekitarnya. Batavia, 14 April 1722,” demikian terjemahan bebas yang dikutip Betawipos dari bunyi huruf-huruf berbahasa Belanda dan Jawa di tugu peringatan itu.

Siapa sebenarnya Peter Erberveld hingga bernasib malang seperti itu?

Pieter Erberveld dilahirkan di Ceylon, Belanda yang kemudian bekerja di Batavia. Lelaki tampan itu lahir dari ibu berdarah Siam, meski sejarawan Betawi, Alwi Shahab menyebut ibunya merupakan perempuan Jawa. Nama keluarganya menunjukkan bahwa keluarganya berasal dari Elberfeld yang sekarang menjadi bagian kota Wuppertal Negara Bagian NRW, Jerman. Ayahnya hijrah ke Batavia sebagai penyamak kulit yang kemudian diangkat sebagai anggota Heemraad atau pejabat lokal Belanda untuk mengurusi kepemilikan tanah di daerah Ancol.

Kedekatan Erberveld dengan pribumi

Keluarga Erberveld tinggal di Kawasan elit bernama Jacatraweg, tempat para pejabat Hindia Belanda bermukim. Ia dikenal kaya raya lantaran menjadi tuan tanah di sana. Kekayaan inilah yang diwariskan kepada anaknya. Ayah Erberveld merantau dari Jerman ke Amsterdam pada 1670 untuk bergabung dengan VOC dan menjadi prajurit kavaleri. Pieter Erberveld senior juga menjadi salah satu orang kepercayaan Cornelis Speelman, Gubernur Jenderal Hindia-Belanda.

Meski berdarah Eropa, Erberveld dikenal dekat dengan pribumi. Hal ini lantaran ketidakadilan pemerintah Batavia dalam kasus tanah di wilayah Pondok Bambu. Ia merasa dirugikan pemerintah kolonial karena ratusan hektar tanah miliknya dirampas dengan tudingan tak memiliki izin dari pejabat berwenang.

Karena perjuangannya mempertahankan tanah itulah, Erberveld mendapat simpati dan dukungan dari pribumi. Apalagi dirinya kerap berkunjung ke rumah-rumah warga kampung yang konon dinamakan Pecah Kulit pasca hukuman matinya itu. Kunjungan ke rumah-rumah warga itu tak lain merupakan perjuangan melancarkan strategi perlawanan terhadap VOC.

Kebencian Erberveld terhadap kelicikan VOC yang tak terbendung itulah yang membuat tekadnya begitu bulat melawan bersama warga pribumi. Baginya, bisnis VOC sangat licik dan kejam. Maskapai dagang besar pertama di dunia itu juga penuh dengan skandal korupsi. Thomas B Ataladjar dalam buku Toko Merah Saksi Kejayaan Batavia Lama di Tepian Muara Ciliwung menyebut, kasus mega korupsi itulah yang menjadi biang keladi kebangkrutan VOC pada 1799.

Rupanya, perlawanan Peter Erberveld itu mendapat simpati dari bangsawan Banten Raden Ateng Kartadria. Ia kerap berhubungan dengan Kesultanan Banten dan 25 pengikutnya untuk mendukung aksi pembangkangan tersebut pada 31 Desember 1721. Aksi yang akan dilakukannya itu yakni membunuh semua warga Belanda menjelang perayaan tahun baru. Hal itu dilakukan mengingat pengamanan selalu longgar pada saat perayaan tahun baru.

Kartadria sendiri dalam buku Alwi Shahab, Batavia Kota Banjir menyebut sudah mengumpulkan 17 ribu prajurit yang siap memasuki kota. Sayangnya, rencana itu akhirnya bocor dari mulut budak Erberveld hingga Komisaris VOC untuk urusan bumiputera, Reykert Heere bergerak cepat dan menangkap 23 pelaku pemberontakan termasuk Erberveld dan Kartadria.

Akibatnya, Gubernur Joan Van Hoorn bukan hanya menyita tanahnya, ia juga menjatuhi hukuman tambahan denda berupa 3.300 ikat padi yang harus dibayarkan pada pemerintah. Erberveld dan Kartadria akhirnya dijebloskan dalam penjara.

Hanya dalam waktu 4 bulan dalam kurungan, Erberveld, Katadria dan para pengikutnya langsung divonis mati. Eksekusi dilaksanakan pada 22 April 1722.

Jika biasanya hukuman mati dilakukan dengan cara digantung atau dipancung di depan Stadhuis, tidak demikian halnya dengan Erberveld. Hukuman mati baginya dilaksanakan di Kampung Pecah Kulit untuk memberikan shock therapy bagi warga pribumi yang berniat membangkang.

Dalam buku Betawi, Queen of East, Alwi Shahab menggambarkan eksekusi yang sangat sadis dengan mengikat kedua kaki dan tangan Erberveld dengan kuda.

“Tubuh mereka semua dicincang dan jantungnya dicopot. Lalu badan mereka ditarik dengan empat ekor kuda yang berlari secara berlawanan ke empat penjuru, sampai pecah-pecah menjadi empat bagian,” tulis Alwi Shihab.

Lalu kepala Erberveld ditancapkan di sebatang tombak depan rumahnya yang hancur. Di dekatnya didirikan tugu peringatan bagi siapa saja yang melawan Belanda. Namun sejak invansi Jepang ke Indonesia pada 1942, tugu itu dihancurkan tetapi prasastinya dapat diselamatkan. Replikanya akhirnya didirikan kembali.

Sejak 1985, monumen itu dipindahkan ke Museum Prasasti Jakarta karena tempat tugu itu berdiri kini menjadi showroom mobil.

Sedangkan daerah tempat hukuman mati itu dilakukan kini bernama Kampung Pecah Kulit. Terletak di dekat Gereja Sion, tak jauh dari Stasiun Jayakarta. (Berbagai sumber)