Betawipos, Surabaya – Tradisi Ruwatan masih dikenal di kalangan masyarakat Jawa sebagai suatu kebiasaan yang sakral. Konon, yang bersangkutan akan menemui musibah atau kesialan jika lalai melakukan ruwatan. Mitos atau fakta? Wallahualam.

Ki Said SIngolodro, pakar metafisika

Bagi masyarakat Jawa yang hanya memiliki anak tunggal, baik perempuan atau laki-laki butuh kehati-hatian dalam merawat satu-satunya generasi penerus keluarga. Anak tunggal laki-laki biasa disebut ontang-anting sementara disebut unting-unting kalau ia perempuan.

Menurut konsep kepercayaan masyarakat Jawa, anak tunggal merupakan jenis anak sukerto alias anak yang “tidak membawa keberuntungan”. Anak tunggal perlu diruwat atau disucikan karena jiwanya terancam dimangsa Betara Kala. Menurut pakar metafisika, Ki Said SIngolodro, di jaman modern seperti sekarang ini sosok Betara Kala bukan diterjemahkan sebagai sosok raksasa yang mengerikan. Betara Kala itu bisa berupa musibah atau kesialan.

“Kalau jaman nenek moyang dulu masih percaya Betara Kala itu wujudnya raksasa. Tapi jaman sekarang mana ada sosok menakutkan seperti itu. Betara Kala itu ibarat musibah, tragedi atau kesialan yang bisa merenggut nyawa seorang sukerto,” kata lelaki yang tinggal di Kota Surabaya ini pada Betawipos, Jumat (07/05/2020).

Selain anak tunggal, keluarga yang mempunyai lima anak yang semuanya laki-laki atau biasa disebut pendawa lima juga perlu diruwat demi keselamatannya. Konon, orangtua yang memiliki lima anak laki-laki memiliki aura panas hingga harus diselamatkan dengan menggelar upacara ruwatan.

Dulu masyarakat percaya kalau Pendawa Lima itu selalu menjadi musuh bebuyutan bangsa Kurawa yang sering digambarkan sebagai Kala atau raksasa.

“Jaman sekarang logika itu sudah bergeser. Karena anaknya lima laki-laki semua ya sering berantem itu sudah wajar. Kalau anak laki-laki sudah berkelahi itu kadang tak terkontrol dan bisa jadi mengakibatkan salah satu anak jadi korban,” kata Ki Said.

Bukan hanya anak pendawa lima dan ontang-anting yang perlu diruwat. Anak kembar baik lelaki atau perempuan alias dampit juga harus menjalani ruwatan. Begitu juga tiga bersaudara dengan anak perempuan di tengah atau disebut sendang kapit pancuran juga perlu diruwat karena masuk dalam kriteria anak panas.

Selain kriteria tersebut, ada faktor lain yang mengharuskan seseorang harus menjalani upacara ruwatan. Ada orang atau anak yang dianggap sukerto karena perbuatan lalai yang pernah dilakukannya. Misalnya mematahkan sebuah gandhik (batu giling) ataupun pipisan (batu landasan pelumat jejamuan). Begitu juga halnya dengan anak yang memecahkan periuk. Kemudian ada juga bayi yang lahir bersamaan dengan terbitnya matahari (Julung wangi) atau tenggelamnya matahari (Julung pujud). Mereka juga harus diruwat agar terhindar dari bahaya yang mengancam diri ataupun lingkungan sekitarnya.

“Jadi ruwatan itu ada maknanya. Misalnya bagi orang yang memecahkan periuk. Periuk itu kan tempatnya nasi atau makanan. Kalau dipecahkan artinya tidak ada lagi sumber makananya kan? Jadi mesti diruwat biar tidak sial,” papar lelaki yang sering dimintai politisi mendukung pencalonannya.

Menurut Ki Said, bahaya yang mengancam keselamatan anak-anak atau orang seperti itu, konon dapat berupa penderitaan fisik, misalnya sakit-sakitan, ataupun yang bersifat psikis. Gangguan atau cobaan tersebut dipersonifikasikan sebagai Betara Kala. Menurut konsep kepercayaan Jawa, Dewa Kala adalah penguasa segala jenis makhluk halus di tanah Jawa. Satu-satunya cara agar bisa selamat dari ancaman makhluk jahat itu hanyalah dengan upacara ruwatan.

Ruwat Pembebasan Anak Sukerto

Ruwat artinya pelepasan atau pembebasan dari malapetaka. Istilah tersebut menjadi sakral dan dipercaya sebagian masyarakat Jawa hingga kini. Tak sedikit orang Jawa yang selalu gelisah jika belum menggelar ruwatan bagi anaknya yang termasuk kategori sukerto. Ruwatan memang tradisi yang tak bisa ditawar-tawar lagi bagi mereka.

Upacara ruwatan berbeda dengan upacara selamatan yang sering dilakukan banyak orang. Rangkaian upacara ini membutuhkan sarana prosesi lengkap, salah satunya harus ada pagelaran wayang kulit dengan lakon khusus Murwakala. Dengan demikian ruwatan sudah pasti membutuhkan biaya yang tidak sedikit.

Sukerto dan ruwat adalah dua kata yang mempunyai hubungan sebab-akibat. Karena itulah keduanya menjadi beban bagi mereka yang percaya. Selain ruwatan membutuhkan biaya besar, di sisi lain kepercayaan itu menuntut perlunya penyelenggaraan upacara tersebut.

“Karena kuatnya keyakinan itu, tidak jarang kalau ada kejadian musibah, kesusahan atau bencana dalam rumah tangga seseorang, selalu dikaitkan dengan anaknya yang sukerto dan belum diruwat,” pungkas Ki Said. Tok/Red