Betawipos, Mojokerto – Kawasan hutan Watu Blorok di Dusun Waru Gunung Tengah, Desa Kupang, Kecamatan Jetis, Kabupaten Mojokerto, terbakar Kamis (3/9/2020) malam lalu. Hingga kini belum diketahui penyebab pasti kobaran api yang menghanguskan hutan jati tersebut. Konon, warga meyakini penyebab kebakaran berasal dari pertarungan dua bersaudara Joko Wilis dan Roro Welas. Benarkah?

Menurut petugas BPBD Kabupaten Mojokerto, Rohim, kebakaran kali pertama diketahui warga sekitar pukul 18.37. Saat itu, warga yang sedang melintas melihat kobaran api di tengah hutan.

’’Saat saya ke sini api sudah menjalar,’’ ungkapnya seperti dikutip Betawipos dari media setempat.

Kondisi itu membuat upaya pemadaman dilakukan secara manual dengan bantuan petugas Perhutani. Api baru berhasil dijinakkan selang sejam kemudian dan tak sampai meluas karena terbatasi lintasan arena balap motor trail.

Kebakaran yang melanda Wana Wisata Watu Blorok di Dusun Waru Gunung Tengah, Desa Kupang, Kecamatan Jetis, Kabupaten Mojokerto, Kamis (3/9/2020) malam lalu.

Menurut Petugas Perhutani, Sukaji, selama ini kawasan hutan yang tak jauh dari pemukiman warga tersebut sering terbakar. Itu karena ulah pemburu babi hutan.

’’Biasanya kalau dibakar membuat babi hutan keluar. Kalau karena puntung rokok kemungkinannya kecil. Yang banyak ya orang berburu babi hutan. Karena tidak satu dua kali kebakaran di sini,’’ papar Sukaji.

Meski demikian, ada juga yang meyakini jika seringnya kebakaran di hutan tersebut tak lepas dari mitos tempat keramat Watu Blorok itu sendiri. Di lokasi tersebut masih dikeramatkan dua bongkah batu yang diberi sekat kain putih di sekelilingnya. Di atas batu tersebut juga kerap dijumpai taburan bunga.

Konon Watu Blorok adalah akibat kutukan seorang ayah yang marah pada anaknya sehingga mereka berubah menjadi batu. Menurut Sawiji, juru kunci Wana Wisata Watu Blorok, hingga sekarang setiap akan diadakannya panen masyarakat tidak pernah melupakan acara kenduri di sekitar tempat keramat itu. Warga berharap berkah dari hasil bumi dan tanamannya tidak terserang hama.

“Masyarakat sekitar Wana Wisata Watu Blorok menganut kepercayaan Animisme dan Dinamisme. Sehingga masyarakat mengkeramatkan 2 batu yang ada dalam Wana Wisata Watu Blorok.” jelasnya.

Papan informasi sejarah di Wana Wisata Watu Blorok

Dirinya menuturkan, Watu Blorok adalah sosok Joko Wilis dan Roro Welas yang ‘disabdo’ jadi batu oleh bapaknya, Wiro Bastam, seorang abdi Kerajaan Majapahit pada masa pemerintahan Raden Wijaya sekitar tahun 1293 masehi.

Nama Watu Blorok merujuk pada sosok Joko Wilis yang wajahnya seketika berubah menjadi “blorok” (red: Loreng) setelah masuk ke dalam Sumur Upas. Sedangkan batu yang lebih kecil di seberang jalan adalah perwujudan Roro Welas adiknya.

Menurut Sawiji, sosok Wiro Bastam adalah orang kepercayaan kerajaan Majapahit yang diutus untuk mencari pusaka kerajaan yang hilang. Ia mencari pusaka tersebut sampai ke Gunung Wilis, tempat Watu Blorok berada. Dalam pencariannya, Wiro Bastam bertemu dengan Dewi Kemuning hingga keduanya menikah dan dikaruniai anak laki-laki yaitu Joko Wilis. Nama anaknya tersebut diambil sebagai tetenger atau penanda tempat mereka tinggal saat itu.

Tak berapa lama, Wiro Bastam dan Dewi Kemuning kembali dikaruniai bayi perempuan yang diberi nama Roro Welas. Kedua bersaudara itu tumbuh dewasa dengan gemblengan Wiro Bastam yang terkenal sakti mandraguna. Hal itu dilakukan untuk melanjutkan pencarian pusaka dengan bantuan kedua anaknya tersebut.

“Tetapi melihat istrinya sendirian di rumah, Wiro Bastam memutuskan untuk tetap tinggal dan mengutus kedua anaknya mencari pusaka tersebut,” katanya.

Suatu malam Roro Welas bermimpi bahwa pusaka tersebut berada di hutan sekitar tempat tinggal mereka. Setelah menceritakan kepada ayahnya, Roro Welas dan Joko Wilis berangkat ke Gunung Wilis untuk melakukan perburuan. Wiro Bastam pun merestui keberangkatan mereka dan berpesan agar keduanya tidak memasuki hutan larangan di sisi timur gunung Wilis.

“Sayangnya Roro Welas ini nekat masuk ke hutan larangan meski sudah diingatkan Joko Wilis akan pesan ayahnya. Tanpa sepengetahuan Joko Wilis, Roro Welas masuk ke hutan larangan dan menemukan sebuah sumur yang diyakini tempat pusaka kerajaan berada,” katanya.

Akhirnya keduanya masuk ke hutan larangan menuju sumur yang dimaksud Roro Welas sebelumnya. Meski Joko Wilis sudah mengingatkan, namun adiknya bersikeras masuk ke sumur untuk mengambil pusaka yang dicari-carinya selama ini.

“Tiba-tiba Roro Welas berteriak-teriak dari dalam sumur upas karena kepanasan dan gatal-gatal yang sangat hebat. Karena kebingungan, Joko Wilis minta pertolongan kedua orang tuanya untuk menolong adiknya dari dalam sumur,” ujarnya.

Roro Welas berhasil diselamatkan meski tubuhnya penuh luka dan berbau busuk hingga membuat Wiro Bastam dan Dewi Kemuning berduka melihat kondisi putrinya seperti itu. Sekian lama penyakit Roro Welas tak kunjung sembuh hingga dipanggil Nyi Borok (Blorok). 

Namun kondisi Nyi Blorok itu tak menyurutkan usaha keduanya untuk menyelesaikan tugas kerajaan yang dibebankan pada sang ayah. Mereka berharap bisa kembali ke pusat kerajaan setelah menyelesaikan tugasnya.

Nyi Blorok yang percaya jika pusaka tersebut berada disana, tetap nekat terus menyusuri hutan larangan. Akibatnya, ia berselisih dengan sang kakak yang tidak mau musibah terulang kembali. Tak pelak keduanya pun terlibat pertarungan adu kekuatan. Perkelahian yang berlangsung lama itu tak menunjukkan tanda-tanda siapa yang menang dan yang kalah hingga Wiro Bastam berusaha melerainya.

“Saat memisahkan kedua anaknya itulah, Wiro Bastam dan Dewi Kemuning terlempar oleh kekuatan serangan kedua anaknya. Makanya Wiro Bastam marah dan mengucapkan kutukan bahwa hati dan pikiran kedua anaknya seperti batu,” papar Sawiji.

Wiro Bastam terkejut dan menyadari jika kesaktian ucapannya justru membuat kedua anaknya menjadi batu. Sehingga pasangan itu berjanji untuk selalu menjaga anak-anaknya sampai mereka meninggal.

”Makanya tak sedikit yang meyakini jika kebakaran itu karena ilmu kesaktian Joko Wilis dan Roro Welas yang masih bertarung sampai sekarang,” imbuhnya.

Konon, pernah ada seorang pekerja pabrik minyak kayu putih sekitar Wana Wisata Watu Blorok yang tidak percaya dengan mitos tersebut. Buruh pabrik itu malah melecehkan kepercayaan warga setempat dengan mengencingi tempat keramat itu.

“Akibatnya, dalam perjalanan menuju Wana Wisata Watu Blorok, ia justru mengalami kecelakaan hingga dilarikan ke puskesmas terdekat.” pungkas Sawiji yang ikut menyaksikan kejadian tersebut. (berbagai sumber)