“Tak lelo, lelo, lelo ledung
Cep meneng ojo pijer nangis
Anakku sing ayu rupane
Yen nangis ndak ilang ayune”

Demikian bunyi lirik lagu keroncong Lelo Ledung yang kerap dinyanyikan orangtua-orangtua di era pasca kemerdekaan RI dulu. Konon, lagu tersebut cukup ampuh untuk mendiamkan tangis anak-anak atau untuk menina-bobokan mereka.

Namun tak banyak yang tahu, siapa sosok yang menciptakan lagu tersebut. Beliau adalah almarhum Markasan, pimpinan Orkes Keroncong Aneka Warna yang berdiri tahun 1960 silam. Suami Kartiyah ini memiliki tiga anak yakni Marlia (68), alm. Maryono dan almh. Maryati.

Menurut Marlia, inspirasi lagu Lelo Ledung adalah saat dirinya yang masih bayi menangis hingga dinyanyikan lagu tersebut.

“Waktu itu mak (Kartiyah) menyanyikan lagu bapak sambil dindung-ndung (digendong) biar saya diam dan tertidur,” katanya pada Betawipos.

Rupanya lagu itu cukup ampuh untuk menidurkan anak kecil karena iramanya yang mendayu-dayu. Tak heran jika lagu itu kerap menjadi senjata ampuh bagi orangtua saat anaknya rewel.

Lagu Lelo Ledung kian hits setelah dinyanyikan Waldjinah kala itu. Hingga era ’80 sampai ’90an lagu itu masih terdengar di kalangan masyarakat Jawa khususnya. Meski hanya tembang pengantar tidur, namun di dalamnya mengandung doa dan harapan agar kelak anak perempuannya memperoleh hidup mulia, menjadi wanita utama, meninggikan nama orang tua, syukur bisa tampil menjadi pendekarnya bangsa. Doa dan harapan inilah yang benar-benar tercermin dalam sosok putrinya Marlia yang sejak muda menunjukkan kecantikan dan mulia dalam bersikap.

Saat ini Marlia masih menempati rumah kediaman orangtuanya di Jl. Genteng Kulon no.8 Surabaya. Rumah inilah yang menjadi kenangan masa kecilnya sekaligus kenangan sang maestro keroncong tanah air berikut lagu legendarisnya.

Foto almarhum Markasan bersama istrinya ini masih tersimpan rapi diantara berkas-berkas kenangan masa kejayaannya. Sayangnya, barang-barang kenangan sosok seniman besar itu seperti biola dan piringan hitamnya banyak yang sudah raib dan sudah rusak.

Lagu Lelo Ledung karya Markasan yang melejit berkat Waldjinah