Betawipos, Surabaya – Mungkin makam Paul Francois Corneille, tentara Belanda ini merupakan satu-satunya peninggalan kompeni yang istimewa dan terawat dengan baik. Betapa tidak, nisan yanv terletak di kompleks pemakaman Peneleh Surabaya ini terkesan unik, antik dan mencolok diantara ratusan monuman di sekitarnya.

Batu nisannya terbuat dari besi baja cor yang kokoh, tak lekang oleh jaman meski sudah ratusan tahun terpapar terik matahari dan hujan. Apalagi kualitas baja di era pendudukan Belanda diakui sangat bagus hingga sekarang. Desain nisan itu juga bergaya gothic. Lantas, siapakah sebenarnya jasad yang dimakamkan di situ?

Namanya jelas terpampang, Hier Rust yang berarti Di sini Bersemayam Paul Francois Corneille. Dari penelusuran Betawipos, Paul lahir di Tilburg pada 16 Mei 1812 putra pasangan Paulus Vredee – Francoise Charlotte Von Abel. Ia merupakan anggota militer berpangkat Letnan Kolonel Artileri kepercayaan pemerintah Kerajaan Belanda kala itu. Jabatan yang disandangnya juga tidak main-main, Direktur Artileri Constructie Winkel alias Pabrik Konstruksi Artileri.

Para petinggi ACW berfoto di depan pabrik

Lokasi pabrik ACW itu sekarang menjadi Gedung Telkom STO Kebalen, tepat di sisi timur House of Sampoerna Surabaya. Sebelum menjadi pabrik ACW, bangunan tersebut merupakan Conctructie Winkel alias Bengkel Konstruksi yang didirikan Gubernur Jenderal Belanda William Herman Daendels. CW didirikan sebagai bengkel pengadaan, pemeliharaan dan perbaikan alat-alat perkakas senjata Belanda.

Daendels juga mendirikan bengkel amunisi berskala besar bernama Proyektiel Fabriek (PF) dan laboratorium Kimia di Semarang. Kemudian tahun 1850 pemerintah Belanda mendirikan bengkel pembuatan dan perbaikan amunisi, serta bahan peledak untuk pertahanan maritim mereka, Pyrotechnische Werkplaats (PW) di Surabaya.

Lantaran ingin menjadikan Surabaya sebagai pusat pertahanan itulah, ppada awal tahun 1851, Daendels merubah CW menjadi ACW. Sepuluh tahun kemudian ia menggabungkan PW ke dalam ACW. Perusahaan manufaktur pertahanan itu menangani 3 instalasi produksi, Wapen Kamer (unit produksi senjata dan alat-alat perkakasnya), amunisi dan Pyrotechnische Werkplaats (mesiu dan bahan peledak), serta laboratorium penelitian bahan-bahan maupun barang-barang hasil produksi.

Untuk itu, Daendels mempercayakan Paul Francois Corneille sebagai direktur di pabrik yang memproduksi persenjataan ringan hingga meriam berat. Pabrik itu tercatat merupakan pabrik alat utama sistem persenjataan terbesar di Hindia Belanda. Semuanya demi menjadikan Surabaya yang dirancang sebagai kota Garnisun untuk menghadapi ancaman Inggris.

Tulisan di makam juga menyebutkan bahwa Paul meninggal pada 18 Mei 1861. Di liang yang sama itu juga dimakamkan istri tercinta Diederika Elisabeth yang meninggal dua tahun pasca kematiannya. Istri yang dinikahi Paul saat dirinya berusia 25 tahun.

Semasa hidupnya, Paul pernah menerima penghargaan tertinggi dari Raja Spanyol, Orde van Karell III. Hal itu tak lepas dari karir Paul yang moncer sebagai petinggi pabrik alutsista hingga menjadikan Surabaya sebagai bagian dari Hindia Belanda dipenuhi infrastruktur militer. Mulai tangsi hingga kantor komando pertahanan, rumah sakit militer hingga pabrik alutsista raksasa kala itu. Maka tidak heran jika makam petinggi pabrik ACW ini dibuat sedemikian kokoh dan indah.

Artileri Constructie Winkel, pabrik alutsista Belanda

Sepeninggal Paul Francoise, pejabat-pejabat penggantinya di pabrik ACW kurang banyak memberikan kontribusi signifikan hingga terjadi pergantiaan pengelola. Sampai pertengahan 1914 Pabrik ACW dipindahkan pertama kali dari Surabaya ke Bandung. Perpindahan dilakukan selama rentang waktu 1918-1920 dengan alasan keamanan karena adanya Perang Dunia I. Kemudian pada tahun 1932, Pabrik PW dipindahkan ke Bandung dan bergabung bersama ACW dan dua instalasi persenjataan lain, yaitu Proyektiel Fabriek (PF) dan laboratorium Kimia dari Semarang, serta Institut Pendidikan Pemeliharaan dan Perbaikan Senjata dari Jatinegara yang direlokasi ke Bandung dengan nama baru, Geweemarkerschool. Keempat instalasi tersebut dilebur di bawah bendera Artillerie Inrichtingen (AI).

Pasca kemerdekaan, pemerintah Belanda pada 1950 menyerahkan pabrik tersebut kepada Pemerintah Indonesia. Kemudian pabrik tersebut diberi nama Pabrik Senjata dan Mesiu (PSM) yang berlokasi di PT Pindad sekarang ini. (berbagai sumber).