Betawipos, Kediri – Menurut penulis Dukut Imam Widodo menjelaskan hasil risetnya tentang sejarah berdirinya pabrik rokok PT. Gudang Garam bahwa Pabrik rokok ini didirikan oleh seorang pria asal Thionghoa yang merantau ke Indonesia bernama Tjoa Ing Hwie.

Migrasi masyarakat Thionghoa ini berlangsung, sejak zaman Raja Airlangga. Tjoa Ing Hwie kecil lahir di sebuah kota kecil bernama Fuking Fujian, China. Namun, karena keadaan di Negerinya yang tidak menentu, memaksa ia harus meninggalkan tanah leluhurnya di daratan China. Kala itu, Ing Hwie masih sangat kecil yakni, baru berusia empat tahun. Ing Hwie dibawa oleh keluarganya menumpang sebuah kapal.

Kapal mereka akhirnya bersandar di sebuah pulau kecil di Indonesia yaitu, Madura, tepatnya di Kabupaten Sampang. Daerah tersebut, saat itu sudah dikuasai oleh Kolonial Belanda. Ing Hwie yang semula hanya bisa berbahasa Mandarin, akhirnya harus menguasai Bahasa Jawa dan Madura, sebagai bahasa komunikasi sehari-hari.

Karena ayahnya meninggal dunia, Ing Hwie lalu diminta oleh pamannya untuk datang ke Kediri. Sebuah kota yang termasyur karena sejarahnya. Sang paman adalah seorang pemilik pabrik pembuatan rokok klobot Tjap 93. Ing Hwie belajar melinting rokok dari tempat tersebut.

Setelah merasa cukup mendapatkan ilmu dan pengalaman, Ing Hwie kemudian memberanikan diri untuk mendirikan pabrik rokok sendiri. Keinginannya tersebut mendapatkan restu dari pamannya. Semua tempat usahanya tersebut diberi nama Tjap Ing Hwie, sepertinya namanya.

Berawal dari mimpi

Masih di tahun 1958, suatu malam Ing Hwie bermimpi. Di dalam mimpinya tersebut, ia melihat ada sebuah bangunan tempat peyimpanan garam. Bangunan gudang itu terletak di dekat rel kereta api.

Ing Hwie kemudian menyewa lahan milik Muradioso yang teletak di Kelurahan Semampir, Kota Kediri. Lahan tersebut seluas 1.000 meter persegi. Ing Hwie memang belum cukup uang untuk membeli lahan sebagai tempat usaha. Diatas tanah sewa itu kemudian didirikan pabrik untuk memproduksi rokok Sigaret Kretek Linting (SKL). Diberi labet Tjap Ing Hwie, sesuai namanya.

Dua tahun berjalan, perusahaan tersebut masih berproduksi. Mimpi tersebut terulang kembali. Ing Hwie melihat ada bangunan sebuah gudang tempat penyimpanan garam. Ing Hwie semakin yakin bahwa mimpinya tersebut adalah sebuah petunjuk yang harus diwujudkan (ilham).

Keesokan paginya, seperti dikutip Betawipos, Ing Hwie memanggil seorang karyawan bernama Sarman. Pekerja linting rokok ini memiliki kemampuan supranatural. Ing Hwie menceritakan tentang mimpinya tersebut. Ternyata Sarman juga memiliki keyakinan serupa bahwa mimpi tersebut adalah sebuah petunjuk bagi Ing Hwie. Akhirnya rokok Tjap Ing Hwie diganti menjadi Tjap Gudang Garam.

Produk perusahaan besar yang berawal dari sebuah mimpi

Setelah dua tahun berjalan Ing Hwie akhirnya mengganti nama perusahaannya menjadi Pabrik Rokok Tjap Gudang Garam dan inilah awal dari berdirinya PT Gudang Garam, jelas penulis Hikayat Surabaya Tempo Dulu, Malang Tempo Dulu, Grisse Tempo Dulu, Sidoarjo Tempo Dulu dan Jember Tempo Dulu .

Gudang Garam berdiri, pada 26 Juni 1958. Awalnya, pabrik tersebut hanya memperkerjakan sebanyak 50 orang karyawan. Sebagian pekerja berasal dari kawan lamanya. Produknya saat itu ada dua jenis yaitu, SKL dan SKT. Untuk daerah pemasarannya seputar Kediri, Blitar, Nganjuk dan Kertosono.

Seiring berkembangnya perusahaan, akhirnya lahan sewaan milik Muradioyo itu kemudian dibeli oleh Ing Hwie. Bangunan di lahan tersebut lalu diberi nama Unit 1. Lalu bangunan lainnya diberi nama Unit 2 dan seterusnya.

Lalu, pada tahun 1971 dari status perusahaan berbentuk Persekutuan Firma (PF) akhirnya berubah menjadi Perseroan Terbatas (PT). Produknya terus berkembang hingga lahir rokok Sigaret Kretek Mesin (SKM). Sementara Tjoe Ing Hwie atau yang lebih akrab dengan nama Surya Wonowiyono (berarti : matahari menyinari hutan yang subur) akhirnya meninggal dunia di usianya yang ke-68, pada 29 Agustus 1985.

Dalam riset Dukut Imam Widodo ini juga dijelaskan bahwa sosok Tjoe Ing Hwie sangat Njawani. Karena dia juga berpedoman pada falsafah orang Jawa. Maka dia terkadang dipanggil dengan sebutan Babah Ing Hwie atau pak Surya. Kemudian dalam dia mempelajari betul Pitutur Luhur Budaya Jawa. Nilai-nilai kearifan lokal, dimana Kediri sebagai Pitutur Luhur Budaya Jawa, yang mengilhami adanya Tjatur Darhama Perusahaan atau empat tanggung jawab yang diberlakukan hingga saat ini.