Betawipos, Jakarta – Akar Bahar selama ini dianggap sebagai bagian dari tanaman yang tumbuh di kedalaman lautan. Namun rupanya ia termasuk dalam jenis hewan laut keluarga Anthozoa, hewan yang tidak memiliki tulang belakang. Kok bisa? Ini penjelasannya!

Seperti dilansir dari Wikipedia, bentuk fisik Anthozoa mirip dengan tumbuhan. Hewan ini sangat bertolak belakang dengan arti namanya yang berasal dari paduan kata ‘akar’ dan kata ‘bahar’ yang dalam bahasa Arab artinya laut. Sehingga, secara harfiah berarti akar dari laut.

Anthozoa merupakan salah satu hewan yang hidup di dasar laut. Sebagai family dari Anthozoa, hewan dengan nama latin ‘Euplexaura sp’ ini termasuk dalam klasifikasi Octocorallia. Hewan ini juga banyak berkembang di kawasan laut Afrika Timur hingga sampai ke laut Indonesia dan Pasifik.

Anthozoa ini memiliki banyak jenisnya sehingga, masyarakat mengenalnya sesuai dengan bentuk fisiknya. Ada akar bahar berjaga (bercagak), tali arus (gelomang lautan), kipas, cemara, dan akar bahar ular. Ada juga akar bahar ratu, bening, akar bahar jantan dan betina. Namun secara umum, masyarakat lebih suka mengelompokkan menjadi 3 jenis, yakni akar bahar hitam, merah dan putih. Dari ketiga jenis ini, hanya akar bahar hitam yang lebih mudah ditemukan. Selain digunakan sebagai aksesoris seperti gelang, cincin, dan juga cangklong (pipa untuk merokok) jenis ini ternyata kaya akan manfaat lainnya.

Memang belum banyak penelitian dan riset komprehensif terkait manfaat yang bisa diambil dari penggunaannya di dunia medis. Manfaat benda satu ini untuk kesehatan tubuh sering dipaparkan berbagai kalangan hanya berdasarkan pengalaman pribadi masing-masing penggunanya. Salah satu manfaat yang sering diungkapkan dengan memakainya sebagai gelang akan menambah vitalitas tubuh yang lebih baik. Selain itu, fosil hewan laut ini mengandung beragam senyawa alami ini, termasuk radium yang memancarkan radioaktif untuk pengaturan ion dan energi agar lebih teratur pada tubuh.

Tubuh yang fit dengan ion yang stabil tentu memberi pengaruh positif terhadap sirkulasi darah serta metabolisme yang bagus, sehingga dipercaya mampu mengurangi hipertensi, rematik, asam urat, dan penyakit lainnya yang terkait dengan tekanan darah.

Ki Said Singolodro
Ki Said Singolodro, Spiritualis asal Surabaya

Karena masih sedikit riset dan penelitian yang mengeksplorasi tentang khasiatnya, masyarakat Nusantara masih lebih mengedepankan manfaat dan khasiat dari sisi non-klinis, yakni spiritual.

Menurut spiritualis Ki Said Singoludro, ada beragam cerita mistis, ataupun mitos yang menjadi dasar ketertarikan masyarakat untuk mengaplikasikannya dalam dunia spiritual. Salah satunya adalah cerita tentang Nabi Sulaiman.

“Konon, akar bahar merupakan cemeti atau cambuk yang dipakai oleh Nabi Sulaiman untuk mengikat dan membelenggu jin yang dihukum karena berbuat kejahatan,” katanya pada Betawipos, Rabu (22/07/2020).

Para jin dan setan tersebut, paparnya, dipenjarakan di dasar laut dan yang menjadi tali pengikatnya adalah akar bahar. Hal inilah yang katanya membuat para jin dan setan merasa fobia (takut) jika melihatnya. Maka tak heran jika penggiat spiritualis sering memakainya sebagai gelang karena ampuh untuk menjauhkan diri dari setan, anti ilmu hitam, anti sihir, santet dan mengusir aura negatif.

“Dalam dunia spiritual, benda ini memiliki beberapa manfaat seperti mendatangkan keberuntungan dan mengusir bala (kesialan), memudahkan pemakainya dalam membuat atau mempertimbangkan keputusan dan menetralkan serangan gaib serta membuang aura negatif,” jelasnya.

Selain itu akar bahar juga diyakini bisa meningkatkan kekebalan tubuh terhadap penyakit nyata dan tidak nyata, kewibawaan dan kharisma diri sehingga akan dihormati dan disegani orang lain. Hewan ini juga bisa membawa ketenangan hati dan pikiran, meningkatkan stamina dan semangat kerja, mempertajam intuisi dan kecerdasan emosional, memberi pengaruh persuasif dan menarik simpati publik serta meningkatkan kepercayaan diri dan keberanian.

Namun Ki Said berpesan bahwa segala sesuatunya tetap hanya milik dan kehendak Tuhan Yang Maha Esa.

“Jadi sebaiknya jangan terlalu mengagungkan suatu benda, termasuk akar bahar. Tetap kita harus berserah diri kepada Gusti Allah karena benda-benda itu hanya lantaran atau perantara saja,” pungkasnya. Cdx